Hayfanadda Family Blog’s

Icon

"Hari ini sama dengan hari kemarin maka ia dalam kerugian"

Tokoh – Syekh Abdul Qadir Jailani Penghulu Para Sufi

SUATU hari, ketika sedang berada di rimba, lelah, lapar dan dahaga, dan tak ada makanan yang dapat ia santap, Jailani duduk. Tak lama kemudian awan menggumpal di angkasa, dan hujan pun turun. Jailani menuntaskan hausnya, tapi laparnya kian menjadi. Tiba-tiba, muncul sosok terang di angkasa, berseru padanya: “Akulah Tuhanmu. Kini kuhalalkan bagimu segala yang haram.”

Jailani tertegun, tapi segera ia mengucap ta’audz, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Sosok bercahaya itu  pudar, mengecil dan hilang. Sayup, hanya suaranya saja yang terdengar. “Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari tipuanku.

“Tapi Jailani, apa yang membuat engkau segera tahu, aku menggodamu?” tanya suara itu. “Pernyataanmu menghalalkan yang haramlah yang membuatku tahu engkaulah setan. Tak mungkin Allah akan mengucapkan kalimat itu,” jelas Jailani.

Suara setan itu kemudian lenyap, seperti guruh yang padam.

   Tapi, godaan dari setan tak hanya itu. Di hari dan tahun berbeda, sosok yang bercahaya juga mendatanginya, dari angkasa raya. “Jailani, akulah Jibril,” seru suara itu, “Bersamaku kini ada buroq, dan bersegeralah engkau menunggangnya, karena Allah Tuhanmu, telah menunggu sidratul munthaha.”

“Engkaulah sesungguhnya iblis yang terkutuk. Takkan mungkin aku tertipu. Jibril dan buroq tak akan mungkin ke dunia bagi selain Muhammad,” sahut Jailani.

“Hebat Jailani. Keleluasaan ilmumu telah menyelamatkan engkau.”

“Tidak. Enyahlah! Rahmat Allah-lah yang sesungguhnya menjadi pelindungku.”

   Dua kisah mistis di atas, dipercayai para pengikut tarekat Qadariah, memang menimpa Jailani. Dan dari dua peristiwa itu, terdapat perlambang kearifan yang luar biasa. Peristiwa pertama mengaitkan perjuangan melawan kesulitan ekonomi, dan peristiwa kedua, perjuangan melawan kesombongan akan ilmu, saat seseorang mendaki kesadaran rohani tertinggi. Dua hal ini — kesadaran akan kekuatan dan kecemasan akan kesenangan– merupakan kelemahan terakhir yang mesti dienyahkan dari batin seorang pengikut jalan sufi. Dan Jailani menunjukkan, mampu melewati dua titik itu tampa kesulitan. Mengutamakan kejujuran Sayid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, di bulan Ramadhan 470 Hijrah, bertepatan dengan tahun 1077 Masehi. Ayahnya bernama Shahih, seorang pengikut mistik, masih keturunan Hadrat Imam Hasan, ra, cucu pertama Rasulullag SAW, putra sulung dari Imam Ali ra dengan Fatimah ra. Ibunya adalah putri seorang aulia, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein ra, putra kedua Ali dan Fatimah. Maka, Jailani adalah seorang Hasani sekaligus Huseini, jalur darah yang terhubung langsung dengan Muhammad. Jailani kecil lebih dikenal sebagai sosok yang pendiam, menerima, rajin bertafakkur, dan sering mengejar pengalaman mistik. Di usia 18 tahun, keleluasaan ilmunya telah membuatnya terkenal di Baghdad, yang saat itu menajdi pusat ilmu dan peradaban. Di usia semuda itu pula, ia telah mendapat gelar Ghauts al-Azam. Dalam terminologi sufi, gelar ghauts menduduki jenjang ruhani dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah sesudah permohonan para nabi.Apa yang membuat Jailani mendapat gelar ini? Saat ia akan berangkat ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping uang mas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah keatiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan alm. ayahnya, yang dipersiapkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Sebelum bernagkat, ibunya berpesan, jangan sekali-kali ia berbohong sepanjang hidupnya. Saat peati yang ia tumpangi tiba di Hamadan, segerombolan perampok menjarah kafilah itu. Tapi, Jailani luput dari perhatian, karena pakaiannya yang sederhana. Sayang, sebelum pergi, seorang perampok, iseng menanyainya, apakah Jailani memiliki uang. Jailani mengangguk. “Ada 80 keping mas di bagian dalan baju, yang dijahitkan ibu saya.” Perampok itu terperanjat, dan membawa si pemuda jujur ini kepada pemimpinnya. Dan saat ditanya ulang, Jailani mengakui hal yang sama. Bajunya pun digeledah, dan tertemukanlah 80 keping uang mas itu. “Mengapa kau tak berbohong?” tanya perampok itu. “Akan sia-sialah perjalananku menuntut ilmu agama ini, jika kuawali dengan kebohongan,” sahut Jailani. Perampok itu terjatuh dari kudanya. Tubuhnya gemetar, air matanya memancar. Ia bertobat, dan kelak tercatat, sebagai murid pertama Jailani. Selama di Baghdad, Jailani terkenal sebagai murid yang cerdas dan amat gemar bermusyahadah, mempertajam mata batin untuk dapat menyaksikan langsung keagungan Allah. Kegemarannya akan hal itu membuat Jailani berkenalan dan berguru dengan Hadhrat Hammad, sufi terbesar di zaman itu. Setelah studinya kelar, ia makin keras beribadah. Al-Quran ia tamatkan perhari, dan ia acap menyepi, berpuasa setahun penuh, kecuali di hari yang diharamkan. Setelah tinggal di Syustar, dan menyepi 11 tahun, nur-ilahi yang ia cari datang. Nafsu hewaninya  telah tertundukkan. Setelah itu, karier kesufiannya melesat, dan ia segera memperoleh pengikut yang luar biasa banyak. Tapi, ada satu hal yang aneh dari sufi masyur ini, ia tak jug amenikah. Jailani takut, wanita akan membuatnya terpalingkan dari Allah. Tapi, di usia 51 tahun, ia tak ingin lagi menunda menjalankan sunah nabi tersebut. Ia pun menikah di tahun 521 Hijrah, dengan empat wanita, yang semuanya saleh dan amat taat padanya. Dari keempat istinya ini, Jailani dikaruniai 49 anak, 20 lelaki dan 29 putri. Putra-putranya tumbuh sebagai ulama-ulama besar, dan meneruskan ajaran Jailani. Ada empat putranya yang tercatat sebagai pemikir dan sufi terbesar di zaman itu. Putra tertuanya, Syekh Abdul Wahab, adalah sufi termasyur, dan penerus sekolah Jailani. Syekh Isa adalah seorang guru hadits yang amat terkenal, juga penyair dan khatib yang amat bagus. Adiknya, Syekh Abdul Razaq lebih hebat lagi, dipercaya anak Jailani yang paling memiliki kecenderungan spiritual sekuat ayahnya, dan terakhir, Syekh Musa, adalah ulama terkenal di Damakus. Jailani wafat 11 Rabi’ul Akhir 561 H (1166 M), pada usia 91 tahun. Di Pakistan, tanggal ini diperingati sebagai Giarwin Syarif, semacam pembacaan puja-puji untuk Jailani. Selama hidup, tak terhingga karya-karya Jailani. Tapi, tarekat Qadariah, adalah warisannya yang paling terkenal di dunia Islam. Meskipun, ia masih mewariskan caatatan berupa nasihat dalam buku Futuh al-Ghaib, Fath al-Rabbani, berupa kumpulan 68 kotbah, dan qasidah, syair dengan bahasa estetik yang luar biasa. Kini, tarekat Qadariah adalah yang terbesar di dunia Islam. (Aulia a Muhammad)

 

 

Filed under: Artikel , , ,

One Response

  1. elfan mengatakan:

    Siapakah yang menyatakan bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani sebagai penghulu para wali, siapakah yang tahu titel tersebut dari Allah SWT, apakah dia pernah mendengar perkataan tersebut dari Allah SWT langsung atau melewati siapa. Syekh Abdul Qadir Jailani sendiri, orangnya tawadhu’ tidak mau mengatakan seperti itu. Bahkan orang-orang sekampungnya tidak pernah menyatakan seperti itu, lalu bagaimana kita harus mempercayai kebenaran titel itu (buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali, Mahrus Ali, halaman 399).

Leave a Reply